Empat bulan sudah hampir berlalu bencana kebakaran hutan dan lahan terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Dampak yang paling terasa hingga kini adalah kabut asap yang menutupi udara di wilayah yang terdampak. Meliput isu lingkungan, peristiwa bencana termasuk kebakaran hutan, lahan dan kabut asap ini merupakan tugas yang berbahaya dan berat di dunia jurnalistik.
Jurnalis tidak hanya harus melindungi laporan mereka, tetapi juga melindungi diri mereka sendiri. Meliput isu lingkungan tak hanya cukup berisiko dari pihak-pihak yang tidak senang, tetapi juga risiko dari kondisi lingkungan yang sedang diliput.
Seperti halnya meliput bencana kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap yang beracun dan membahayakan kesehatan. Pengukuran kualitas udara dapat diketahui dengan aplikasi pemantau kualitas udara. Partikel konsentrasi partikulat (PM2,5) merupakan polutan utama dalam laporan kebakaran hutan dan lahan seperti saat ini. Sumber PM2,5 bisa dari banyak hal seperti debu, jelaga, asap kendaraan, pembakaran pembangkit listrik, proses industri dan sebagainya.
PM2,5 merupakan partikel halus di udara yang mempunyai diameter aerodinamis sebesar 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop elekton. Mengingat ukurannya yang sangat kecil, sulit disaring tubuh dan bisa masuk ke dalam saluran pernapasan, peredaran darah bahkan ke dalam otaj. Karena itu sangat berbahaya bagi mereka yang menghirupnya.
Mengingat ukurannya yang sangat kecil, partikel ini juga sangat berbahaya dan menimbulkan risiko kesehatan. Alasannya, dengan ukuran tersebut partikelnya sulit disaring tubuh dan bisa masuk jauh ke dalam saluran pernapasan saat seseorang menghirupnya.
Artikel atau laporan para jurnalis memiliki kekuatan: kisah tersebut mengungkap dampak buruk, memperkuat komunitas, serta membela hak atas planet yang layak huni. Kekuatan itulah yang membuat keselamatan para jurnalis menjadi begitu penting.
Lantas bagaimana seorang jurnalis dalam melaporkan atau melakukan tugas jurnalistik secara aman di area kebakaran hutan dan lahan serta daerah yang tertutup kabut asap?
Daftar keselamatan sebelum melakukan peliputan hingga setelah publikasi cukup penting disiapkan. Tips-tips berikut merupakan langkah pencegahan dasar yang harus diingat oleh setiap jurnalis. Tips ini akan membantu para jurnalis dalam menilai risiko, merencanakan pergerakan, serta melindungi diri sendiri maupun pihak-pihak yang diliput, sehingga jurnalis dapat terus menjalankan pekerjaan dengan aman.
Mengutip dari laman Earthjournalism, penting untuk merencanakan segala sesuatunya untuk keselamatan
Perencanaan sebelum penugasan:
1. Lakukan riset tentang lokasi tujuan. Penting untuk memahami berbagai risiko yang ada: kondisi medan, ketegangan politik dan pihak-pihak yang berpengaruh di wilayah setempat. Cek pula pihak yang memiliki rekam jejak yang bermusuhan dengan media.
2. Periksa peringatan perjalanan dan kondisi terkini, terutama pantauan udara, angin dan wilayah berbahaya akibat kebakaran.
3. Pastikan jaringan telekomunikasi yang paling tepat dan mumpuni agar akses komunikasi tidak terputus.
4. Atur dokumentasi penting seperti kartu pers, surat penugasan dan perizinan lokal serta asuransi kesehatan.
5. Beritahu pihak tepercaya tentang rencana perjalanan dan perkiraan akan kembali.
6. Susun rencana evakuasi darurat, ketahui lokasi rumah sakit terdekat, rute yang aman, serta sarana transportasi cadangan.
7. Bawa perlengkapan penting: ponsel yang terisi daya, bank daya, kotak P3K termasuk obat tetes mata dan botol oksigen, air minum, camilan dan baterai cadangan serta menjaga fisik selama penugasan.
Keselamatan Fisik Selama Penugasan
Melakukan liputan di lapangan menghadapkan seorang jurnalis pada bahaya fisik. Selalu waspada dan siap siaga agar tetap selamat. Dalam liputan kebakaran hutan, dan lahan di wilayah gambut penting diperhatikan karena bergerak cepat tidak bisa diprediksi dan mematikan.Beberapa hal berikut ini :
1. Latih kesadaran situasional, selalu amati lingkungan di sekitar terutama peta kawasan kebakaran, arah angin dan peringatannya; hindari panas ekstrem dan hari yang berangin.
2. Lakukan peliputan bersama tim atau kontak lokal yang tepercaya, hindari pergi sendirian.
3. Hindari rutinitas yang mudah ditebak, ubah rute dan jadwal perjalanan serta identifikasi berbagai jalan keluar.
4. Jaga kendaraan tetap penuh terisi bahan bakar.
5. Gunakan perlengkapan pelindung yang memadai, seperti masker yang tepat (masker respirator dengan filter gas udara debu dan kacamata google, atau minimal masker N95); sepatu boot dengan sol tebal karena tanah gambut bisa sangat panas dan pelacak GPS. Pakai pakaian yang tertutup, nyaman, dari bahan katun tebal dan hindari dari bahan sintetis; helm untuk melindungi dari ranting atau pohon yang rapuh bekas terbakar; sarung tangan untuk menghindari puing atau arang.
6. Bangun komunikasi dan hubungan dengan masyarakat lokal. Mereka dapat memberi peringatan jika ada bahaya.
7. Tentukan tingkat visibilitas Anda. Mengenakan rompi pers reflektif yang terlihat jelas di tengah kabut asap atau menggunakan kendaraan berlogo media—bahkan membawa peralatan besar seperti kamera televisi—bisa sangat membantu, namun juga dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan.
**
Dalam Diskusi Publik di Balik Asap: Memperkuat Jurnalisme Publik dalam Mengungkap Karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah" pada Jumat, 16 Oktober 2026, Rendy Tisna salah satu pembicara dari Aliansi Jurnalis Persiapan Banjarmasin menyinggung beberapa hal penting dalam peliputan kebakaran hutan dan lahan.
Jurnalis berisiko mengalami beberapa hal ketika melakukan liputan di wilayah kebakaran hutan, lahan dan kabut asap. Jurnalis harus menyiapkan alat pelindung diri yang memadai dari risiko.
“Risiko tersebut antara lain polutan PM2,5 yang bisa mengiritasi saluran napas dan mata; gambut membara api di bawah tanah dan tanah bisa ambles, jarak pandang yang terbatas membuat rawan tersesat dan kecelakaan di jalan serta risiko panas serta dehidrasi,” katanya.
Menurut Rendy, liputan media selama ini lebih menyoroti lokasi terjadinya kebakaran, luas lahan, berapa titik api, bagaimana api dipadamkan dan bagaimana kondisi kabut asap.”Ini masih terlalu dangkal,” ujarnya.
Penting jurnalis didorong lebih menggali aspek-aspek yang lebih dalam seperti mengapa kebakaran terjadi dan terus berulang, siapa yang terdampak, bagaimana tata guna lahan mempengaruhi risiko, siapa yang berwenang mengawasi dan harus bertanggung jawab. “Perlu berkolaborasi bagaimana menggunakan tool untuk memperkaya data untuk menghasilkan jurnalisme data yang lebih komprehensif,” ujar Rendy.
Karena itu para jurnalis perlu memperkuat tiga hal dalam peliputan kebakaran hutan, lahan dan kabut asap ini:
1. Warga sebagai subjek cerita, menyuarakan warga yang terdampak asap, kehilangan penghidupan, terganggu pendidikannya, dan ikut memadamkan api.
2. Keadilan bagi masyarakat adat. Perladangan gilir balik tidak otomatis menjadi penyebab, harus melihat konteks dan skala, membedakan dengan pembukaan lahan besar.
3. Data dan teknologi. Jurnalis bisa menggunakan data dan teknologi titik panas, tutupan lahan, konsesi kawasan gambut, kualitas udara dan data kesehatan membuka pola yang tak terlihat.
Rendy juga menambahkan beberapa tema liputan bersama yang bisa dilakukan antara lain:
1. Pemetaan kawasan hutan dan lahan yang berulang terbakar.
2. Hubungan titik api dengan konsesi dan lahan.
3. Kondisi gambut, dan perubahan tata air.
4. Dampak asap bagi kesehatan warga.
5. Dampak bagi pendidikan dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.
6. Perlindungan masyarakat adat dan peladang.
7. Penanganan kawasan pascakebakaran.
8. Pengawasan dan penegakan hukum.
9. Evaluasi kebijakan daerah dan pusat.
10. Mandat dan kerja Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional.